Hubungan Teori Transisi Epidemologi dengan COVID 19 Sebagai Penyakit Infektif Yang Banyak Terjadi Di Negara Maju
Konsep yang berbicara mengenai perubahan mengenai proses perubahan trend penyakit yang berhubungan dengan perkembangan kondisi suatu negara atau wilayah. Transisi epidemologi menggambarkan bahwa adanya perbedaan kondisi trend penyakit pada suatu kondisi negara, yang mana secara umum negara berkembang memiliki kondisi kesehatan dengan ciri penyakit infeksi yakni penyakit yang berkembang melalui agen mikroorganisme & kemampuan transmisi atau secara sederhananya yakni penyakit menular. Contoh penyakit infeksi yang banyak berkembang di negara-negara berkembang ialah seperti campak,cacar, atau Ebola, yang mana penyakit infektif di Indonesia merupakan penyakit terbesar kedua yang mematikan. Hal ini dapat terjadi sebab media penyebaran agen penyakit seperti bakteri dkk banyak di temui di negara – negara berkembang dengan kondisi tingkat kesehatan yang buruk, serta lingkungan hidup yang kurang hiegenis, sehinggga proses penularan bakteri sangat mudah terjadi. Berbeda dengan negara-negara maju yang memilki trend penyakit degenerative (non-menular) yang sebagian besar disebabkan karena penuaan, gaya hidup (olahraga, nutrisi), lingkungan, racun & lain-lain. (Omran ,1971) transisi tersebut dapat digambarkan pada grafik (gambar 2.1) dibawah dengan beberapa penjelasan singkat dalam tabel (2.2)
Gambar 2.1 Grafik epidemiologi Transition
Table 2.2 table transisi epidemologi
Akhir -akhir ini dunia sedang dihebohkan dengan adanya virus corona atau Covid 19 (coronavirus disease 2019) yang di sebabkan oleh SARS-CoV-2 merupakan jenis penyakit menular / infeksi, yang pada Maret lalu telah diumumkan oleh WHO sebagai pandemik (Wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas). Angka mortalitas dan morbiditas secara keseluruhan karena infeksi virus memilki tingkat fatalitas kasus cukup rendah antara 2% hingga 3% berbeda dengan penyakit infektif yang sebelumnya seperti Ebola yang memilIki tingkat mortalitas yang cukup tinggi yakni sekitar 40,4 %. Sehingga, dari sini morbiditas dapat ditekan jauh. Sebab penularan dari pengidap tidak terlalu tinggi atau secara sederhana dapat dibahasakan orang yang terjangkit penyakit ini memiliki kemungkinan untuk berinteraksi dan menularkan virus lebih sedikit sebab setelahnya dikubur. Berbeda dengan Covid 19, orang yang terjangkit dapat terus menularkan virus dengan mudah sebab fatalitas yang rendah. Terutama pada pasien-pasien seperti OTG (Orang Tanpa Gejala) yang bahkan tidak memiliki gejala umum yang dapat terus menularkan virus tanpa disadari, sehingga angka morbiditas nya sangat tinggi. Covid 19 secara umum memilki tingkat fatalitas yang cukup tinggi pada 2 kategori pasien yang terjangkit, yakni pasien dengan umur lansia kisaran di atas 50 tahun serta pasien dengan penyakit kronis bawaan seperti penyakit jantung, diabetes, asma, atau kanker. Adapun persebaran angka statistik kasus dari Covid 19 adalah seperti gambar 3.1.
Gambar 3.1 tabel angka statistik kasus korona dan penyebarannya didunia per 31/3
Dari 700 ribu kasus yang terkonfirmasi, hampir 3/4 nya terjadi di negara maju. Jelas hal ini menunjukan angka yang tidak sesuai dengan teori transisi epidemologi yang telah dijelaskan sebelumnya. Bahwa penyakit infektif seharusnya banyak terjadi di negara berkembang, bukan seperti kasus Covid 19 ini yang lebih banyak terjadi di negara maju. Jika ditelaah lagi, hal ini terjadi sebab belum adanya negara manapun yang siap menghadapi pandemi semacam ini (belum di temukan Vaksinnya), akibatnya belum ada negara yang benar-benar dapat mengatasinya dengan baik. Sedangkan pada teori transisi epidemologi diasumsikan penyakit infektif tersebut sudah dapat diatasi dengan kualitas penanganan kesehatan yang baik. Selanjutnya yang membuat persebaran penyakit menular ini (Covid 19) banyak terjadi di negara maju sebab tingginya tingkat kerentanan populasi di negara maju tersebut untuk terjangkit Covid 19, yakni jumlah penduduk dengan umur lansia yang cukup tinggi (Aging population) serta penduduk dengan penyakit kronis / degenerative yang cukup tinggi. Sehingga hal tersebut yang menyebabkan mengapa Covid 19 banyak terjadi pada negara-negara maju dan tidak sesuai dengan teori transisi epidemologi.
1.



Komentar
Posting Komentar